Musyawarah Anak Cabang PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Siak Berlangsung Meriah

Kader PDI Perjuangan mengenakan seragam kebesaran partai, berbaur dalam suasana akrab


SIAK (NU) - Warna merah mendominasi Kota Siak Sri Indrapura, Sabtu (4/7/2026). Bendera-bendera PDI Perjuangan berkibar di sejumlah sudut jalan. 

Merah menyala terlihat sejak rombongan kader memasuki kawasan pusat kota hingga menuju Luxe Riverside Hotel Siak.

Di hotel yang menghadap tepian Sungai Siak itu, ribuan kader banteng berkumpul. Mereka datang dari berbagai kecamatan untuk menghadiri Musyawarah Anak Cabang (Musacab) PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Siak.

Suasana berlangsung meriah. Teriakan merdeka beberapa kali menggema dari dalam ruangan. Kader mengenakan seragam kebesaran partai, berbaur dalam suasana akrab.

Musancab ini dihadiri Ketua DPD PDI Perjuangan Riau Zukri, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Riau Kaderismanto dan Wakil Ketua Bapilu Aswandi.

Hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Siak Mahadar, Ketua KPU Siak Said Dharma Setiawan, jajaran Bawaslu serta perwakilan sejumlah partai politik.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Siak Irving Kahar Arifin berdiri di tengah lautan kader berbaju merah. Bagi Irving, Musancab bukan sebatas agenda organisasi.

Ia menyebut pertemuan itu sebagai momentum merapatkan kembali barisan partai hingga ke akar rumput.

“Intinya dari Musancab ini adalah merapatkan barisan di akar rumput. Kehadiran pengurus DPD PDI Perjuangan di tengah-tengah kita membuktikan bahwa PDI Perjuangan itu kompak, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan atau PAC, sampai dengan ranting,” kata Irving.

Menurutnya, seluruh struktur partai harus bergerak dalam satu tarikan napas perjuangan. Kekompakan itu harus terus dibina, dari tingkat pusat hingga struktur paling bawah.

Irving juga menegaskan posisi PDI Perjuangan dalam pembangunan Kabupaten Siak. Partai berlambang banteng moncong putih itu, katanya, berkomitmen mendukung pemerintah daerah sepanjang kebijakan yang dijalankan berpihak kepada masyarakat.

“PDI Perjuangan berkomitmen selalu mendukung pemerintah daerah. Walaupun ada riak-riak kecil, kami adalah sebagai partai penyeimbang,” ujarnya.

Ia mengakui, suara kader maupun anggota Fraksi PDI Perjuangan terkadang terdengar keras. Namun sikap kritis itu, menurut Irving, merupakan bagian dari fungsi penyeimbang.

“Walaupun beberapa fraksi kami mungkin ngomongnya agak keras, itu bukan murni kami sebagai oposisi. Kami sebagai penyeimbang. Intinya PDI Perjuangan selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat kecil, wong cilik,” katanya.

Di hadapan Sekda Siak Mahadar, Irving menyatakan PDI Perjuangan siap bergotong royong mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Ia kemudian mengarahkan pesannya kepada seluruh kader. Nada suaranya meninggi ketika berbicara tentang tugas politik ke depan.

Menurut Irving, tantangan politik dan dinamika masyarakat menuntut kader bekerja lebih keras, lebih cerdas dan lebih masif turun ke bawah.

“Kader PDI Perjuangan harus senantiasa menangis dan tertawa bersama rakyat. Dan jangan tinggalkan rakyat,” serunya.

Teriakan merdeka kembali bergema dari barisan kader.

Irving juga membawa pidatonya pada identitas Kabupaten Siak sebagai tanah Melayu. Menurutnya, Siak bukan sebatas wilayah administrasi, melainkan tanah bertuah yang sarat sejarah dan budaya.

Karena itu, ia menegaskan komitmen PDI Perjuangan untuk bersinergi dengan kebijakan yang menjaga adat istiadat Melayu. Menurut Irving, ideologi Pancasila dan ajaran kebangsaan Bung Karno memiliki titik temu dengan nilai-nilai Melayu.

“Nilai gotong royong, musyawarah mufakat, membela yang lemah atau wong cilik, ini adalah implementasi filosofi ajaran Bung Karno dalam bentuk marhaenisme,” katanya.

Ia menyebut politik PDI Perjuangan di Kabupaten Siak harus dijalankan dengan cara beradab dan beradat.

“Politik PDI Perjuangan di Siak adalah politik yang beradab dan beradat. Merdeka,” teriaknya.

Memasuki bagian akhir pidato, Irving memberi pesan khusus kepada kader yang mengikuti Musancab. Ia meminta kepengurusan PAC disusun dengan mempertimbangkan kemampuan bekerja, loyalitas dan kesungguhan membesarkan partai.

“Pilihlah dan susunlah kepengurusan yang solid, yang mau bekerja keras dan berdarah-darah untuk membesarkan partai,” tegasnya.

Irving kemudian mengingatkan perjalanan elektoral PDI Perjuangan di Kabupaten Siak. Saat ini partai tersebut memiliki empat kursi di DPRD Siak.

Padahal, kata dia, PDI Perjuangan pernah memiliki sembilan kursi.

“Kita baru empat kursi. Padahal kita pernah sembilan kursi di Kabupaten Siak. Mengapa ke depan kita tidak menjadikan Siak betul-betul menjadi lumbung suara partai banteng?” katanya.

Pernyataan itu langsung disambut pekikan merdeka dari kader.

Irving meminta seluruh struktur menjaga soliditas dan gotong royong. Ia juga mengingatkan kader agar menghilangkan ego sektoral serta sekat perbedaan suku dan agama.

Menurutnya, PDI Perjuangan dibangun melalui kerja kolektif bersama masyarakat, bukan bergantung kepada orang per orang.

Ia meminta struktur PAC benar-benar membaca karakter masyarakat di wilayah masing-masing. Komposisi pengurus, menurutnya, harus mampu merepresentasikan masyarakat setempat.

Sementara itu, Sekda Siak Mahadar berharap Musancab menghasilkan kepengurusan yang mampu membawa kemajuan bagi partai sekaligus memberi kontribusi bagi daerah.

Ia menekankan pentingnya semangat persatuan dan kebersamaan di tengah perbedaan pandangan politik.

“Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Kami ingin berpesan agar semuanya bermuara pada tujuan bersama, yaitu kesejahteraan masyarakat,” kata Mahadar.

Mahadar menegaskan Pemkab Siak senantiasa membuka pintu kolaborasi dengan seluruh elemen, termasuk partai politik.

Ia berharap sinergi terus terbangun untuk mewujudkan Kabupaten Siak yang maju, sejahtera dan berdaya saing.

Di hadapan kader PDI Perjuangan, Mahadar juga berbagi cerita tentang pengalamannya menelusuri jejak Presiden pertama RI, Bung Karno.

Ia mengaku pernah berkunjung ke tempat kelahiran Bung Karno. Mahadar juga pernah mendatangi tempat kos pertama Bung Karno di rumah HOS Tjokroaminoto.

Menurutnya, tempat itu sangat sederhana dan berukuran kecil. Namun dari ruang sederhana tersebut tumbuh gagasan besar tentang bangsa dan perjuangan.

Ketua DPD PDI Perjuangan Riau Zukri menegaskan prinsip berpartai tidak boleh berhenti pada urusan kekuasaan.

“Prinsip berpartai bukan untuk kekuasaan saja, tapi untuk kesejahteraan rakyat,” kata Zukri.

Zukri menyambut target PDI Perjuangan Siak untuk kembali memperbesar kekuatan di DPRD Siak. Ia bahkan menyatakan dukungan terhadap target delapan kursi pada Pemilu Legislatif mendatang.

“Target delapan kursi di DPRD Siak pada Pileg mendatang harus didukung. Saya senang,” ujarnya.

Namun Zukri mengingatkan, Musancab tidak boleh dimaknai sebatas memilih ketua PAC.

Lebih jauh, forum itu harus menjadi ruang untuk mengokohkan loyalitas, memperkuat pemahaman terhadap platform partai dan memastikan kader hadir di tengah masyarakat.

“Musancab bukan sekadar memilih ketua. Tapi mengokohkan lagi loyalitas kita agar memahami platform partai, sehingga kader hadir ke masyarakat,” katanya.

Ia juga mengingatkan kader dan anggota DPRD dari PDI Perjuangan agar mampu hidup dan bekerja bersama rakyat.

Zukri kemudian mengangkat kembali ajaran Bung Karno tentang marhaenisme. Menurutnya, keberpihakan terhadap rakyat kecil merupakan napas perjuangan partai.

“Bung Karno mengedepankan paham marhaenisme. Bagaimana peduli kepada rakyat kecil dan masyarakat miskin,” ujarnya. 

(Masgin)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama