![]() |
| Penulis: Dian Dwi Jayanti, S.Par. Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning |
Rasa takut ketinggalan ini mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik.
Fear of Missing Out atau FOMO ditengarai dapat menyebabkan kelas menengah jatuh ke lubang kemiskinan. Pelemahan daya beli masyarakat terutama kelas menengah jadi perhatian serius karena dampaknya adalah peningkatan kemiskinan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Menurut penelitian dari jurnal California Baptist University (2024), Gen Z mengalami tingkat FOMO tertinggi dibandingkan generasi lainnya dan yang menjadi salah satu penyebab utama FOMO adalah penggunaan media sosial. Hal ini diperkuat dengan adanya survei yang dipublikasikan di website Statista pada tahun 2023, Gen Z mencakup 60% dari seluruh pembeli yang menemukan produk atau merek baru melalui media sosial. Selain itu, 45% dari mereka mengenal berbagai produk melalui influencer, dan 32% selalu melakukan pembelian. Dengan kata lain, setidaknya setengah dari produk yang mereka lihat di media sosial menjadi konsumsi atau dibeli.
Perasaan FOMO yang dibiarkan dapat memicu munculnya hal negatif seperti kelelahan, stress, depresi, bahkan masalah tidur. Perasaan ini mempengaruhi ketidakpuasan seseorang pada hidup mereka dan merasa apa yang telah dilakukan atau dimiliki seakan tidak pernah cukup. Selain itu dapat memicu munculnya masalah finansial seperti yang disebutkan pada gejala di atas, seseorang rela mengeluarkan biaya yang besar demi tetap up-to-date dan tidak ketinggalan zaman. Meskipun begitu, perasaan FOMO ini dapat dikurangi dengan beberapa tips yaitu dengan membatasi penggunaan media sosial dan mulai menerapkan behavioral finance.
Behavioral finance merupakan ilmu yang menggabungkan antara teori ekonomi dengan teori psikologi dan sosiologi dalam ilmu keuangan yang digunakan dalam membuat suatu keputusan. Ciri-ciri manusia yang paling umum adalah takut, marah, serakah, mementingkan diri sendiri dalam menempatkan keputusan tentang uang. Perilaku manusia biasanya tidak bersifat proaktif, melainkan lebih bersifat reaktif. Behavioral finance relatif lebih mudah untuk menjelaskan mengapa individu membuat sebuah keputusan, tetapi malah mengalami kesulitan dalam mengukur apa akibat dari keputusan tersebut kepada dirinya. Behavioral finance mempelajari pengaruh dari faktor sosial, kognitif dan emosional pada keputusan ekonomi individu.
Berikut akan diuraikan fungsi dan tujuan dalam memahami behavioral finance menurut Pompian (2006), yaitu sebagai berikut:
1. Merumuskan Tujuan Keuangan, memahami behavioral finance akan sangat membantu untuk memahami psikologi dan emosi yang mendasari keputusan pembelian.
2. Mempertahankan Pendekatan yang Konsisten Sebagian besar penasihat yang sukses menerapkan pendekatan yang konsisten untuk menyampaikan layanan manajemen kekayaan. Memasukkan manfaat behavioral finance dapat menjadi bagian dari disiplin.
Peran Financial Behavior dalam Mengendalikan FOMO pada Gen Z:
1.Behavioral finance membantu Gen Z mengenali bias psikologis
Gen Z sering dipicu berbagai bias perilaku seperti FOMO, menurut manajemen keuangan bias perilaku terdiri dari herding behavior yaitu kecenderungan mengikuti keputusan keuangan influencer, teman sebaya, media sosial maupun komunitas. Kemudian perilaku bias lainnya yaitu overconfidence yang membuat Gen Z merasa cukup memahami investasi, loss aversion menyebabkan kehilangan peluang bagi Gen Z. Melalui pemahaman financial behavior, Gens Z dapat menyadari bahwa keputusan keuangan yang diambil sering kali dipengaruhi faktor psikologis, sehingga mampu mengurangi tindakan impulsif yang dipicu oleh FOMO.
2.Membantu pengambilan keputusan keuangan yang rasional pada Gen Z
Behavioral finance berperan sebagai pengendali psikologis bagi Gen Z agar keputusan finansial tidak hanya didasarkan pada tren investasi digital atau gaya hidup yang sedang populer di media sosial. Gen Z dengan perilaku keuangan yang baik cenderung mampu mengevaluasi keputusan investasinya secara rasional dan menyelaraskannya dengan perencanaan keuangan jangka panjang, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh narasi “untung cepat” yang sering memicu FOMO.
3.Mendorong disiplin dan kontrol diri (self-control) pada Gen Z
Behavioral finance menekankan pentingnya self-control, yang tercermin dalam kedisiplinan menabung dan berinvestasi, konsistensi terhadap rencana keuangan, serta kemampuan untuk tidak reaktif terhadap informasi keuangan yang beredar di media sosial dan hanya terfokus pada hal-hal yang viral. Dalam konteks FOMO, kontrol diri ini membantu Gen Z menghindari pembelian aset berisiko tanpa riset, pengeluaran konsumtif demi mengikuti tren, serta pengambilan keputusan keuangan yang tergesa-gesa.
4.Perencanaan keuangan sebagai alat penangkal FOMO bagi Gen Z
Manajemen keuangan menekankan bahwa perencanaan keuangan, seperti penyusunan anggaran, pembentukan dana darurat, dan penetapan tujuan keuangan yang jelas, merupakan fondasi perilaku keuangan yang sehat. Bagi Gen Z, behavioral finance yang baik mendorong kepercayaan terhadap rencana keuangan pribadi, sehingga individu tidak mudah terpengaruh oleh FOMO. Dengan adanya rencana keuangan yang terstruktur, Gen Z memiliki arah yang jelas dalam penggunaan pendapatan, baik untuk konsumsi, tabungan, maupun investas.
5. Meningkatkan literasi dan evaluasi informasi keuangan pada Gen Z
FOMO pada Gen Z banyak dipicu oleh paparan konten media sosial, seperti testimoni keuntungan besar, rekomendasi investasi dari influencer, dan berita keuangan yang bersifat sensasional. Behavioral finance yang sehat mendorong Gen Z untuk meningkatkan literasi keuangan, memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan, serta memahami risiko yang melekat pada setiap instrumen keuangan. Dengan kemampuan evaluasi informasi yang baik, Gen Z dapat membedakan antara informasi yang bersifat edukatif dan sekadar hype, sehingga keputusan keuangan lebih berbasis pengetahuan dan analisis rasional. ( Masgin)

