Pria yang diketahui bernama Febri tersebut disebut datang berkaitan dengan persoalan sisa pembayaran jual beli kendaraan grandong yang digunakan untuk melansir sawit. Kedatangan disebut atas permintaan Timbul Siregar.
Eko menyebutkan bahwa Febri meminta agar persoalan sisa pembayaran grandong diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, Eko mengaku juga mendapat pernyataan akan dilaporkan kepada pihak kepolisian apabila tidak diselesaikan.
“Saya Polisi Polda Riau yang ngepam di rumah Timbul Siregar. Bagaimana terkait kurang bayar Imam kepada Timbul? Ini kalau tidak bisa selesai secara kekeluargaan dilaporkan ke polisi,” kata Febri Polisi Polda Riau kepada Eko.
Eko juga mengaku sempat dituduh bersekongkol dengan Imam karena berkomunikasi melalui telepon.
“Itu kok diangkat kamu nelpon Imam, kalian sekongkol ya?” tangah Febri.
Eko mengaku bingung dengan persoalan tersebut. Sebab, dirinya tidak terlibat dalam transaksi jual beli kedaraan grandong antara Timbul Siregar dengan Imam. Ia hanya berperan sebagai mekanik yang merakit kendaraan tersebut.
Eko menjelaskan, awalnya dirinya mendapat pekerjaan merakit gerandong atas permintaan orang tua Timbul Siregar. Sekitar satu tahun kemudian, grandong tersebut dijual oleh Timbul kepada seseorang bernama Imam.
Setelah kendaraan tersebut dijual, Timbul menghubungi Eko melalui telepon dan memberitahukan bahwa grandong telah dijual kepada Imam.
Beberapa hari kemudian, Imam datang ke bengkel Eko untuk melihat kendaraan tersebut. Setelah terjadi kesepakatan antara Imam dan Timbul, Imam kemudian meminta Eko melanjutkan proses perakitan hingga kendaraan selesai.
“Waktu itu saya hanya mengerjakan perakitan. Upah saya merakit grandong sudah dibayar lunas oleh Imam. Kemudian gerandong tersebut dibawa oleh anggota Imam,” jelas Eko.
Menurut Eko, dirinya tidak mengetahui harga jual gerandong maupun kesepakatan pembayaran antara Timbul Siregar dengan Imam. Namun saat terjadi kurang bayar dilibatkan.
Persoalan kemudian kembali muncul setelah Eko dihubungi Timbul Siregar dan diminta menyampaikan kepada Imam agar melunasi sisa pembayaran gerandong yang disebut mencapai puluhan juta rupiah.
“Saya bingung, tidak tahu apa-apa terkait jual beli tapi kok jadi saya yang disuruh menyampaikan ke Imam. Kalau ada kurang bayar kenapa enggak langsung saja menghubungi Imam. Saya hanya bekerja sebagai mekanik,” kata Eko.
“Bahkan sampai didatangi Polisi Polda Riau ke rumah atas suruhan Timbul Siregar dan mau dilaporkan ke polisi,” tambahnya.
Eko mengaku merasa takut setelah didatangi orang yang mengaku sebagai anggota Polda Riau karena dirinya mengaku tidak memahami persoalan hukum. Tidak hanya itu istri Eko mengaku kawatir suaminya bakal tersandung kasus hukum bukan atas perbuatanya.
Setelah pertemuan tersebut, Febri disebut mengajak Eko bertemu di rumah Timbul Siregar dengan membawa Imam. Namun, beberapa jam kemudian lokasi pertemuan berubah dan diarahkan ke Polsek Bungaraya.
Eko kemudian mendapat telepon dari personel Polsek Bungaraya yang memintanya datang ke kantor polisi untuk mengikuti pertemuan bersama Imam dan Febri.
Sekitar pukul 16.30 WIB, Eko tiba di Polsek Bungaraya. Ia kemudian dibawa ke ruang lalu lintas (Lantas) oleh seorang personel bernama Erwin.
Erwin menyampaikan bahwa dirinya merupakan saudara dari Timbul Siregar. Erwin juga menyebut bahwa Timbul datang ke Polsek Bungaraya dan berencana membuat laporan terkait persoalan tersebut. Namun Erwin menyarankan agar persoalan tersebut terlebih dahulu diselesaikan melalui mediasi.
“Timbul datang ke Polsek Bungaraya mengatakan akan membuat laporan terkait permasalahan ini. Tapi saya saranin jangan dibuat laporan dulu, dimediasi saja. Kalau tidak selesai baru dibuat laporan,” kata Erwin kepada Eko.
Erwin juga menyampaikan bahwa saran penyelesaian secara kekeluargaan telah disampaikan kepada atasannya.
“Udah saya sampaikan ke Kanit, Kanit juga menyarankan supaya diselesaikan secara kekeluargaan,” Imbuh Erwin.
Erwin kemudian menanyakan sejumlah komponen atau alat yang dibeli dalam kondisi baru saat proses perakitan grandong. Timbul menginginkan barang atau alat yang dibeli baru tersebut diganti kembali dengan barang baru oleh Imam apabila sisa pembayaran tidak dilunasi.
“Ini bakal repot Mas Eko kalau dilaporkan ke polisi. Sampai ke Polres Siak nanti Mas Eko jadi repot, dipanggil-panggil jadi saksi,” ucap Erwin.
Terpisah, saat dikonfirmasi, Febri membenarkan dirinya merupakan anggota Sabhara Polda Riau. Namun, ia membantah telah mengancam Eko dengan laporan polisi.
Febri mengatakan kedatangannya ke rumah Eko dilakukan atas permintaan Timbul Siregar untuk menanyakan keberadaan kendaraan milik Timbul yang sebelumnya berada di bengkel Eko.
“Saya datangi Pak Eko nanya kendaraan Bang Timbul karena di sana. Jadi Bang Timbul maunya kalau belum dilunasi diganti yang baru,” kata Febri.
“Tidak ada kalimat begitu bang, tidak ada mengancam, hanya nanya alat Bang Timbul,” ujarnya.
Menurut Febri, dirinya sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam persoalan tersebut. Namun, karena kendaraan milik Timbul disebut berada di bengkel Eko, ia kemudian diminta untuk memastikan keberadaan kendaraan tersebut.
“Ini gimana kendaraan ini. Sebetulnya saya tidak mau ikut campur, tapi karena ini alat Bang Timbul di bengkel jadi saya tanyakan,” katanya.
Saat ditanya mengenai pangkatnya di Sabhara Polda Riau, Febri tidak memberikan jawaban. Dalam percakapan melalui telepon tersebut, kemudian seorang pria mengambil alih pembicaraan dan memperkenalkan dirinya sebagai Timbul Siregar.
Timbul menyebut Febri sebagai anggotanya dan mengatakan dirinya akan menjadi pihak yang bertanggung jawab apabila Febri menghadapi persoalan.
“Maksudnya apa, Bang? Jangan kayak gitu kepada anggota saya. Febri polisi anggota saya. Ketika ada masalah, saya bosnya yang menjadi temengnya,” ujar Timbul.
Timbul juga membantah bahwa dirinya memerintahkan Febri untuk mengancam Eko dengan laporan polisi.
“Yang pastinya si Febri saya suruh ke sana menyelidiki kenapa barang saya ada di sana. Kalau untuk ngancam-ngancam ngapain? Untuk memastikan saja barang itu memang ada di sana, kenapa terjadi demikian,” pungkas Timbul.
(Han)
Sumber: MetroTempo. com

